Minggu, 22 November 2009

FILOLOGI DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN

Sejarah perjalanan umat manusia telah dimulai sejak lama. Bukti-bukti sejarah kehidupan manusia di masa lampau itu dapat kita temukan di masa kini . Banyak peninggalan nenek moyang yang bisa kita jumpai, baik dalam bentuk benda fisik seperti candi, prasasti, senjata, alat-alat rumah tangga, atau naskah, maupun dalam bentuk nonfisik seperti tradisi, budaya, pola pikir, dan sejenisnya. Sebagai manusia dan bangsa yang menghargai peninggalan nenek moyangnya, upaya mempelajari, melestarikan, dan menumbuhkembangkan warisan leluhur itu perlu dilakukan.

Naskah-naskah klasik sebagai salah satu jenis produk budaya pada masa lampau cukup penting keberadaannya. Penting karena dalam naskah-naskah tersebut terkandung banyak hasil pemikiran pada cendikiawan pendahulu kita yang kini kita warisi. Karya-karya tersebut harus kita pelajari agar hormat kita kepada nenek moyang kita bertambah karena perkenalan kita dengan karya-karya mereka yang berkualitas.

Naskah yang sangat berharga itu berserakan tempatnya. Banyak yang belum dikenal masyarakat. Kekhawatiran atas kepunahan nasakah itu harus diwaspadai, harus ada yang mencoba melestarikannya, harus ada yang mengenalkannya dalam bahasa sekarang. Oleh karena itu, salah satu studi keilmuan yang mengarahkan pandangannya ke sana, pada naskah-naskah, yaitu filologi. Filologi merupakan salah satu bentuk usaha manusia menggali harta terpendam itu. Lebih khusus lagi, Filologi merupakan ilmu yang bidang kajiannya adalah meneliti naskah-naskah klasik peninggalan masa lalu. Kajian atau studi yang dilakukan dalam filologi merupakan kajian kritis karena di dalamnya ada proses memilah dan memilih dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Segala sesuatu dilakukan untuk mendapat naskah yang mendekati keaslian (autoritatif).

Penelitian naskah dalam filologi tidak hanya meneliti bentuk fisik naskah tetapi juga sampai kandungan terdalam yang ada di dalamnya. Ada upaya untuk merekonstruksi atau menghadirkan kembali ide-ide, pola pikir, atau rumusan-rumusan hikmah kehidupan yang telah dicapai para pendahulu kita. Dengan demikian filologi merupakan ilmu yang menghubungkan kita dangan landasan kokoh masa lalu agar maksimal meningkatkan kualitas kita (sebagai bangsa yang memiliki sejarah yang demikian panjang) di masa kini dan masa yang akan dating.

Secara umum, filologi bertujuan mengungkapkan hasil pemikiran, pengalaman, dan budaya yang hidup pada masa lalu. Dengan cara seperti itu muncul juga manfaatnya, yakni terkodifikasinya nilai-nilai budaya klasik, melestarikan budaya yang terkandung dalam naskah itu dan memperkenalkannya kepada masyarakat. Sebab memahami isi naskah, yaitu teks, berarti memahami kebudayaan suatu bangsa lewat hasil sastranya, makna teks klasik bagi masyarakat pada jamannya dalam konteks masyarakat masing-masing hingga pada masa sekarang, nilai-nilai kebudayaan lama, dan warisan kebudayaan yang bernilai tersebut

Kajian naskah lama bermanfaat bagi sumbangan kesusastraan Indonesia khususnya dan kesusastraan dunia umumnya baik dalam kajian sejarah sastranya maupun teori sastranya. Dengan ditemukannya naskah-naskah lama dan masih dalam keadaan baik dan terawat akan menjadikan khasanah sastra nusantara semakin kaya, menambah kekuatan sejarah kesusastraan di Indonesia dan mengaitkan pada adanya sumbangan pemikiran melalui bidang sastra dalam penyebaran dan identitas keagamaan di Indonesia serta memperkenalkan kekayaan budaya dan kesusastraan berbagai daerah di Nusantara yang pernah berkembang di Indonesia.

Dilihat dari pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah, filologi bernilai strategis. Objek studi filologi berasal dari berbagai daerah di nusantara yang dengan sendirinya membantu pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah. Rekonstruksi historis jadi mungkin dilakukan karena hasil kerja filologi. Selain rekonstruksi historis, adanya hasil kerja filologi bisa dijadikan dasar pemahaman akan kebudayaan bangsa Indonesia sebagai suatu pemahaman yang bisa dipertanggung jawabkan secara moral karena ditunjang oleh akar argumen yang kuat secara historis.

Kegiatan kajian filologi Indonesia penting sekali artinya bagi pemahaman kebudayaan suatu bangsa yang sedang dalam proses pertumbuhan. Bangsa Indonesia kaya akan kebudayaan yang berasal dari berbagai daerah dan berbeda pula latar belakang kehidupannya. Dengan demikian kajian filologi Indonesia dapat menambah pengertian dan menumbuhkan kesadaran terhadap warisan kebudayaan bangsa yang berharga lagi berguna bagi pembentukan kebudayaan nasional.

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan suatu bangsa sebagai strategi untuk menjamin eksistensi bangsa, mendinamisasikan kehidupan bangsa, membentuk dan mengembangkan kepribadian bangsa dan menata kehidupan bangsa. Untuk itu pendekatan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia harus berorientasi kepada:

  • Sejarah bangsa di masa lampau
  • Kenyataan-kenyataan sosial budaya masa kini
  • Cita-cita nasional di masa yang akan datang, yang secara keselurhan pada hakikatnya didasarkan atas visi kebudayaan yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945.
  • Identitas suatu bangsa didasarkan atas kebudayaannya.

Dengan demikian peran filologi dalam menyusun strategi kebudayaan Indonesia pada dasarnya menyediakan bahan-bahan sebagai sarana refleksi dan instrospeksi. Filologi juga dapat membantu menggali nilai-nilai luhur sebagai bekal menyongsong kehidupan yang lebih baik. Harus disadari bahwa bangsa Indonesia memiliki pengalaman dan sejarah masa lampau yang membentuk karakter. Tidak semua hal dari masa lampau sesuai dan baik untuk saat ini, tetapi beberapa di antaranya relevan dan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di antaranya:

· Konsep Kepemimpinan

Krisis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Yang menjadi pusat perhatian kita hanyalah pada bagaimana memilih pemimpin dan tidak menyinggung pemimpin yang bagaimana yang dipilih. Naskah-naskah klasik memberikan konsep pemimpin yang adil, murah hati, penyayang, taat menjalankan aturan, dan mampu menyelesaikan masalah. Karena itu, gelaran raja Jawa adalah senapati ing alaga, amirul mukminin, kalifatuloh, sayidin panatagama (panglima dalam peperangan. pimpinan orang beriman, penguasa kerajaan, pemimpin keagamaan).

· Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Asal mula budaya Jawa dan huruf Jawa di dalam naskah Jawa klasik bersumber dari cerita Aji Saka. Karena besarnya pengaruh cerita ini, tempat seperti Bledug Kuwu dipercaya munculnya pada zaman Aji Saka. Tahun Jawa juga disebut Tahun Saka. Tiang utama penyangga rumah Jawa disebut Saka Guru. Di dalam cerita Aji Saka disebutkan adanya raja asli Jawa bernama Dewata Cengkar. Raja ini tidak berbudaya dan kanibal. Aji Saka menewaskan raja ini dengan cara disuruh menggelar surban (penutup kepala). Surban Aji Saka mengembang sampai Laut Selatan. Di pinggir tebing laut Dewata Cengkar dikibaskan dan jatuh ke laut. Dewata Cengkar menjadi bajul (buaya) putih yang menjadi pengganggu manusia. Cerita ini memberi gambaran bahwa pribumi akhirnya tersisih karena tidak memiliki ilmu pengetahuan yang disimbolkan kalah dalam menggelar surban. Relevansi bagi strategi kebudayaan bahwa bangsa Indonesia apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan akhirnya hanya akan menjadi bajul putih atau begajulan (berandalan) yang suka mengganggu orang saja. Alih ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang strategis dalam strategi kebudayaan dewasa ini.

Selasa, 17 November 2009

TRANSFORMASI RAJAWALI DALAM SAJAK RAJAWALI KARYA W. S. RENDRA


Sajak Rajawali


Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka


W.S Rendra,
Kumpulan Puisi ” Perjalanan Bu Aminah “,
Yayasan Obor Indonesia - 1997

Burung Rajawali adalah burung yang sangat perkasa, karena kemampuan terbang Rajawali melebihi burung manapun di dunia ini. Rajawali dapat hidup hingga usia 70 tahun, suatu usia yang sulit dicapai oleh makhluk hidup bahkan manusia sekalipun di masa sekarang.

Bait pertama sajak Rendra ini mengandung energi yang sungguh luar biasa.

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri


Cerminan pribadi yang tangguh, keteguhan hati, kekuatan, dan semangat perlawanan yang pantang menyerah terhadap kezaliman. Bahkan sebuah sangkar besipun tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri yang hanya tunduk pada aturan-aturan tuannya.

Burung rajawali tidak menghindari bahaya. Burung rajawali tidak pernah takut badai, tetapi malah menantikan datangnya badai. Dia akan mengembangkan sayapnya, memperhatikan dengan pandangan visinya, kapan badai datang. Sebab dia akan menghadapinya dan menggunakan badai itu untuk melambung tinggi. Dengan sayap jauh lebih besar daripada tubuhnya, ia memiliki aerodinamika yang paling sempurna. Oleh karenanya rajawali memiliki stabilitas ketika sedang melayang-layang di udara dan tidak takut akan pergolakan arus udara yang tidak teratur. Itulah semangat pantang menyerah pada diri rajawali. Rajawali tetap akan menjadi rajawali dimanapun ia berada, bahkan di dalam sangkar besi. Jadilah rajawali yang selalu siap menghadapi badai dan tetap kuat.


Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti


Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara


Rajawali Diciptakan Untuk Tinggal di Tempat Tinggi. Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu.

Rajawali dan langit adalah dua hal yang saling melengkapi. Dimanapun rajawali berada ia yakin bahwa langit akan selalu menantinya. rajawali melayang dengan anggun di langit lepas, membuka lebar-lebar kedua sayapnya dan menggunakan kekuatan angin
untuk mendorong tubuhnya. Rajawali adalah burung yang selalu ingin bebas. Langit dan rajawali adalah satu.

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.

Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut. Kemudian dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama paruh baru nya akan muncul, dan dengan menggunakan paruhnya yang baru itu ia akan mencabut kukunya satu persatu-satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh ia akan mencabut bulu sayap nya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan ketika semua itu sudah dilewati rajawali itu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor rajawali selama kurang lebih setengah tahun.

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana


Burung rajawali ibarat manusia. Ketika sebuah masalah datang dalam kehidupan, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diambil, dan sering dari pilihan yang diambil tersebut harus melewati suatu transformasi kehidupan yang menyakitkan bagi jiwa dan tubuh manusia. Namun

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

Bait terakhir pada sajak Rendra ini adalah sebuah protes dan himbauan bagi manusia yang sudah mencemari langit. Tanpa disadari, berbagai bencana datang akibat ulah manusia. Jadi, semua berawal dari kesadaran manusia sendiri. Mulailah berinstropeksi diri, karena semua bisa terjadi karena ulah tangan manusia sendiri.

Seringkali manusia dihadapkan dengan suatu situasi dan kondisi yang menuntut kita untuk berubah dari kebiasaan-kebiasaan kita, pola pikir kita, komunikasi kita, dan lain sebagainya. Suatu perubahan memang sangatlah menyakitkan dan sulit dilakukan namun bila kita dapat berubah maka kita bisa menjadi manusia yang lebih baik bahkan mendekati kesempurnaan. Jadi siapkah anda untuk berubah di saat anda harus berubah?

Jumat, 13 November 2009

SAJAK BURUNG MERAK

untuk Rendra...

Kutulis sajak ini,

Kala cahaya lilin menyapa malam

Merekah bertabur kegelapan

Bersama hasrat dentuman raungan nada menggema

Dan surat cintamu,

Menjadi inspirasi dalam sajakku.

Kutulis sajak ini,

Kala lilin menangis

Dan pelacur-pelacur kota Jakarta

Terpenjara dalam surga

Membuka dada

menaikkan paha

Dihadapan para pemimpin revolusi.

Kutulis sajak ini,

Kerna langit terus terpejam

Dan engkau tak lagi membuka mata

Tapi buah bibirmu,

Adalah petuah-petuah yang tak pernah gugur

Bersama protes dalam sajak-sajakmu.

Lantang sorak tempikmu

Terkapar di telinga

Merobek-robek fantasiku

Tentang sebotol "Baileys" yang memabukkan

dan sebatang lisong di dalam gelangsing

Wahai, Burung Merak,

Terkagumku terjerembab dalam

sajak-sajak “Sepatu Tua”-mu.

Pesona sajakmu

adalah jeritan seribu manusia

Pesona karyamu

adalah teror bagi dewa-dewa

Dengan hitungan-hitungan morse

Kau buka aib-aib negara

setan berselimut sutera

kau buat menjadi murka

Tapi,

kini langit tak lagi memerah

dan engkau tak lagi membuka mata

Wahai, Burung Merak,

bahkan dalam matipun kau berpuisi.