Sejarah perjalanan umat manusia telah dimulai sejak lama. Bukti-bukti sejarah kehidupan manusia di masa lampau itu dapat kita temukan di masa kini . Banyak peninggalan nenek moyang yang bisa kita jumpai, baik dalam bentuk benda fisik seperti candi, prasasti, senjata, alat-alat rumah tangga, atau naskah, maupun dalam bentuk nonfisik seperti tradisi, budaya, pola pikir, dan sejenisnya. Sebagai manusia dan bangsa yang menghargai peninggalan nenek moyangnya, upaya mempelajari, melestarikan, dan menumbuhkembangkan warisan leluhur itu perlu dilakukan.
Naskah-naskah klasik sebagai salah satu jenis produk budaya pada masa lampau cukup penting keberadaannya. Penting karena dalam naskah-naskah tersebut terkandung banyak hasil pemikiran pada cendikiawan pendahulu kita yang kini kita warisi. Karya-karya tersebut harus kita pelajari agar hormat kita kepada nenek moyang kita bertambah karena perkenalan kita dengan karya-karya mereka yang berkualitas.
Naskah yang sangat berharga itu berserakan tempatnya. Banyak yang belum dikenal masyarakat. Kekhawatiran atas kepunahan nasakah itu harus diwaspadai, harus ada yang mencoba melestarikannya, harus ada yang mengenalkannya dalam bahasa sekarang. Oleh karena itu, salah satu studi keilmuan yang mengarahkan pandangannya ke
Penelitian naskah dalam filologi tidak hanya meneliti bentuk fisik naskah tetapi juga sampai kandungan terdalam yang ada di dalamnya.
Secara umum, filologi bertujuan mengungkapkan hasil pemikiran, pengalaman, dan budaya yang hidup pada masa lalu. Dengan cara seperti itu muncul juga manfaatnya, yakni terkodifikasinya nilai-nilai budaya klasik, melestarikan budaya yang terkandung dalam naskah itu dan memperkenalkannya kepada masyarakat. Sebab memahami isi naskah, yaitu teks, berarti memahami kebudayaan suatu bangsa lewat hasil sastranya, makna teks klasik bagi masyarakat pada jamannya dalam konteks masyarakat masing-masing hingga pada masa sekarang, nilai-nilai kebudayaan lama, dan warisan kebudayaan yang bernilai tersebut
Kajian naskah lama bermanfaat bagi sumbangan kesusastraan
Dilihat dari pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah, filologi bernilai strategis. Objek studi filologi berasal dari berbagai daerah di nusantara yang dengan sendirinya membantu pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah. Rekonstruksi historis jadi mungkin dilakukan karena hasil kerja filologi. Selain rekonstruksi historis, adanya hasil kerja filologi bisa dijadikan dasar pemahaman akan kebudayaan bangsa
Kegiatan kajian filologi
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan suatu bangsa sebagai strategi untuk menjamin eksistensi bangsa, mendinamisasikan kehidupan bangsa, membentuk dan mengembangkan kepribadian bangsa dan menata kehidupan bangsa. Untuk itu pendekatan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia harus berorientasi kepada:
- Sejarah bangsa di masa lampau
- Kenyataan-kenyataan sosial budaya masa kini
- Cita-cita nasional di masa yang akan datang, yang secara keselurhan pada hakikatnya didasarkan atas visi kebudayaan yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945.
- Identitas suatu bangsa didasarkan atas kebudayaannya.
Dengan demikian peran filologi dalam menyusun strategi kebudayaan Indonesia pada dasarnya menyediakan bahan-bahan sebagai sarana refleksi dan instrospeksi. Filologi juga dapat membantu menggali nilai-nilai luhur sebagai bekal menyongsong kehidupan yang lebih baik. Harus disadari bahwa bangsa
· Konsep Kepemimpinan
Krisis yang saat ini dihadapi bangsa
· Pentingnya Ilmu Pengetahuan
Asal mula budaya Jawa dan huruf Jawa di dalam naskah Jawa klasik bersumber dari cerita Aji Saka. Karena besarnya pengaruh cerita ini, tempat seperti Bledug Kuwu dipercaya munculnya pada zaman Aji Saka. Tahun Jawa juga disebut Tahun Saka. Tiang utama penyangga rumah Jawa disebut Saka Guru. Di dalam cerita Aji Saka disebutkan adanya raja asli Jawa bernama Dewata Cengkar. Raja ini tidak berbudaya dan kanibal. Aji Saka menewaskan raja ini dengan cara disuruh menggelar surban (penutup kepala). Surban Aji Saka mengembang sampai Laut Selatan. Di pinggir tebing laut Dewata Cengkar dikibaskan dan jatuh ke laut. Dewata Cengkar menjadi bajul (buaya) putih yang menjadi pengganggu manusia. Cerita ini memberi gambaran bahwa pribumi akhirnya tersisih karena tidak memiliki ilmu pengetahuan yang disimbolkan kalah dalam menggelar surban. Relevansi bagi strategi kebudayaan bahwa bangsa
dan di dalam sangkar besi