Jumat, 13 November 2009

SAJAK BURUNG MERAK

untuk Rendra...

Kutulis sajak ini,

Kala cahaya lilin menyapa malam

Merekah bertabur kegelapan

Bersama hasrat dentuman raungan nada menggema

Dan surat cintamu,

Menjadi inspirasi dalam sajakku.

Kutulis sajak ini,

Kala lilin menangis

Dan pelacur-pelacur kota Jakarta

Terpenjara dalam surga

Membuka dada

menaikkan paha

Dihadapan para pemimpin revolusi.

Kutulis sajak ini,

Kerna langit terus terpejam

Dan engkau tak lagi membuka mata

Tapi buah bibirmu,

Adalah petuah-petuah yang tak pernah gugur

Bersama protes dalam sajak-sajakmu.

Lantang sorak tempikmu

Terkapar di telinga

Merobek-robek fantasiku

Tentang sebotol "Baileys" yang memabukkan

dan sebatang lisong di dalam gelangsing

Wahai, Burung Merak,

Terkagumku terjerembab dalam

sajak-sajak “Sepatu Tua”-mu.

Pesona sajakmu

adalah jeritan seribu manusia

Pesona karyamu

adalah teror bagi dewa-dewa

Dengan hitungan-hitungan morse

Kau buka aib-aib negara

setan berselimut sutera

kau buat menjadi murka

Tapi,

kini langit tak lagi memerah

dan engkau tak lagi membuka mata

Wahai, Burung Merak,

bahkan dalam matipun kau berpuisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar