untuk Rendra...
Kutulis sajak ini,
Kala cahaya lilin menyapa malam
Merekah bertabur kegelapan
Bersama hasrat dentuman raungan nada menggema
Dan surat cintamu,
Menjadi inspirasi dalam sajakku.
Kutulis sajak ini,
Kala lilin menangis
Dan pelacur-pelacur kota Jakarta
Terpenjara dalam surga
Membuka dada
menaikkan paha
Dihadapan para pemimpin revolusi.
Kutulis sajak ini,
Kerna langit terus terpejam
Dan engkau tak lagi membuka mata
Tapi buah bibirmu,
Adalah petuah-petuah yang tak pernah gugur
Bersama protes dalam sajak-sajakmu.
Lantang sorak tempikmu
Terkapar di telinga
Merobek-robek fantasiku
Tentang sebotol "Baileys" yang memabukkan
dan sebatang lisong di dalam gelangsing
Wahai, Burung Merak,
Terkagumku terjerembab dalam
sajak-sajak “Sepatu Tua”-mu.
Pesona sajakmu
adalah jeritan seribu manusia
Pesona karyamu
adalah teror bagi dewa-dewa
Dengan hitungan-hitungan morse
Kau buka aib-aib negara
setan berselimut sutera
kau buat menjadi murka
Tapi,
kini langit tak lagi memerah
dan engkau tak lagi membuka mata
Wahai, Burung Merak,
bahkan dalam matipun kau berpuisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar